Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement MGID

Minggu, 30 Maret 2025, 12:55:00 AM WIB
Last Updated 2025-03-29T17:55:32Z
NEWSSejarah dan Budaya

Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1446 H Jatuh pada 31 Maret 2025

Advertisement


Jakarta|
MATALENSANEWS.com– Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah jatuh pada Senin, 31 Maret 2025. Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam konferensi pers setelah sidang isbat yang digelar di Auditorium KH. M. Rasjidi, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Sabtu (29/3/2025).


"Berdasarkan hisab posisi hilal di wilayah Indonesia yang tidak memenuhi kriteria MABIMS, serta tidak adanya laporan hilal terlihat, maka disepakati bahwa tanggal 1 Syawal 1446 H jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025 Masehi," ujar Nasaruddin Umar.


Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan laporan rukyat dari berbagai daerah di Indonesia. Dari hasil pemantauan, hilal masih berada di bawah ufuk dengan ketinggian antara minus 3 derajat 15 menit 47 detik hingga minus 1 derajat 4 menit 57 detik. Sementara itu, sudut elongasi berkisar antara 1 derajat 12 menit 89 detik hingga 1 derajat 36 menit 38 detik, yang berarti belum memenuhi syarat visibilitas hilal berdasarkan kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).


"Dengan demikian, secara hisab, data hilal pada hari ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat. Oleh karena itu, puasa Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari dan 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin, 31 Maret 2025," jelas Nasaruddin.


Kesepakatan Bersama Ormas Islam


Keputusan sidang isbat ini juga memastikan bahwa tidak ada perbedaan dalam penentuan Idul Fitri 1446 Hijriah antara organisasi masyarakat Islam, baik Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab maupun Nahdlatul Ulama (NU) yang menggunakan metode rukyat.


Dalam penjelasannya, Tim Falak Kemenag, Cecep Nurwendaya, menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS. Pada saat sidang isbat tanggal 29 Maret 2025, tinggi hilal di Indonesia tercatat antara minus 3,26 derajat hingga minus 1,08 derajat, dengan sudut elongasi antara 1,61 derajat hingga 1,21 derajat.


"Di seluruh wilayah NKRI, hilal menjelang awal Syawal 1446 H secara teoritis mustahil dapat dirukyat karena posisinya masih berada di bawah ufuk pada saat matahari terbenam," kata Cecep.


Meski demikian, Cecep menegaskan bahwa penentuan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah di Indonesia menggunakan metode hisab dan rukyat secara bersamaan. "Hisab bersifat informatif, sementara rukyat menjadi konfirmasi dari hasil perhitungan hisab," jelasnya.


Proses Sidang Isbat


Sebelum pengumuman resmi, sidang isbat diawali dengan seminar terkait metode penentuan awal bulan hijriah, yakni metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung dengan mata telanjang atau alat optik).


Setelah seminar, Kemenag menggelar sidang isbat secara tertutup yang dihadiri oleh perwakilan ormas Islam, ahli astronomi, dan perwakilan negara sahabat. Hasilnya kemudian diumumkan secara langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar pada pukul 19.00 WIB.


Dengan keputusan ini, umat Islam di Indonesia dapat merayakan Idul Fitri secara serempak pada 31 Maret 2025 tanpa ada perbedaan antara metode hisab dan rukyat.(Red/GT)